Geoklik menuju kebangkitan

Beberapa tahun yang lalu rekan-rekan jabiger yang tergabung dalam divisi minat dan bakat fotografi yang tergabung dalam Geoklik sempat meramaikan HMTG “BUMI” dengan hasil-hasil karya mereka. Pada jaman itu kamera SLR analog masih berkuasa. Dengan berbekal rol film 24 maupun 36 jepret sana-jepret sini demi menyalurkan bakat merekam cerita dalam sebuat potret.

Waktu itu para punggawa-punggawa geoklik dikomandani oleh Bang Syukri Geoduri, Bang Congek dan bang Edu Geoduda serta banyak lagi partisipan-partisipan yang selalu meramaikan arena ini. Bahkan sampai puncaknya ketika Geoklik HMTG “BUMI” dipercayakan untuk mengadakan pameran dan lomba fotografi dalam rangkaian acara Perdana Perhimagi di Yogyakarta pada tahun 2005 silam.

Continue reading

Advertisements
Posted in Kreatif inovasi | Tagged | 1 Comment

Genesa besi dan alumina laterit

A. GENESA

GenesaUmumNikelLaterit

Berdasarkan cara terjadinya, endapan nikel dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu endapan sulfida nikel – tembaga berasal dari mineral pentlandit, yang terbentuk akibat injeksi magma dan konsentrasi residu (sisa) silikat nikel hasil pelapukan batuan beku ultramafik yang sering disebut endapan nikel laterit. Menurut Bateman (1981), endapan jenis konsentrasi sisa dapat terbentuk jika batuan induk yang mengandung bijih mengalami proses pelapukan, maka mineral yang mudah larut akan terusir oleh proses erosi, sedangkan mineral bijih biasanya stabil dan mempunyai berat jenis besar akan tertinggal dan terkumpul menjadi endapan konsentrasi sisa.
Air permukaan yang mengandung CO2 dari atmosfer dan terkayakan kembali oleh material – material organis di permukaan meresap ke bawah permukaan tanah sampai pada zona pelindihan, dimana fluktuasi air tanah berlangsung. Akibat fluktuasi ini air tanah yang kaya akan CO2 akan kontak dengan zona saprolit yang masih mengandung batuan asal dan melarutkan mineral – mineral yang tidak stabil seperti olivin / serpentin dan piroksen. Mg, Si dan Ni akan larut dan terbawa sesuai dengan aliran air tanah dan akan memberikan mineral – mineral baru pada proses pengendapan kembali (Hasanudindkk,1992).
Boldt (1967), menyatakan bahwa proses pelapukan dimulai pada batuan ultramafik (peridotit, dunit, serpentin), dimana pada batuan ini banyak mengandung mineral olivin, magnesium silikat dan besi silikat, yang pada umumnya banyak mengandung 0,30 % nikel. Batuan tersebut sangat mudah dipengaruhi oleh pelapukan lateritik. Air tanah yang kaya akan CO2 berasal dari udara luar dan tumbuh – tumbuhan, akan

menghancurkan olivin. Terjadi penguraian olivin, magnesium, besi, nikel dan silika kedalam larutan, cenderung untuk membentuk suspensi koloid dari partikel – partikel silika yang submikroskopis. Didalam larutan besi akan bersenyawa dengan oksida dan mengendap sebagai ferri hidroksida. Akhirnya endapan ini akan menghilangkan air dengan membentuk mineral – mineral seperti karat, yaitu hematit dan kobalt dalam jumlah kecil, jadi besi oksida mengendap dekat denganpermukaantanah.
Proses laterisasi adalah proses pencucian pada mineral yang mudah larut dan silika pada profil laterit pada lingkungan yang bersifat asam dan lembab serta membentuk konsentrasi endapan hasil pengkayaan proses laterisasi pada unsur Fe, Cr, Al, Ni dan Co (Rose et al., 1979 dalam Nushantara 2002) . Proses pelapukan dan pencucian yang terjadi akan menyebabkan unsur Fe, Cr, Al, Ni dan Co terkayakan di zona limonit dan terikat sebagai mineral – mineral oxida / hidroksida, seperti limonit, hematit, dan Goetit (Hasanudin, 1992).
Besi dan Alumina Laterit
Besi dan alumina laterit tidak dapat di pisahkan dari proses pembentukan nikel laterit, salah satu produk laterit adalah besi dan almunium. Pada profil laterit terdapat zona-zona di antaranya zona limonit. Zona ini menjadi zona terakumulasinya unsur-unsur yang kurang mobile

Batuan dasar dari pembentukan nikel laterit adalah batuan peridotit dan dunit, yang komposisinya berupa mineral olivine dan piroksin. Faktor yang sangat mempengaruhi sangat banyak salah satunya adalah pelapukan kimia. Karena adanya pelapukan kimia maka mineral primer akan terurai dan larut. Faktor lain yang sangat mendukung adalah air tanah, air tanah akan melindi mineral-mineral sampai pada batas antara limonit dan saprolit, faktor lain dapat berupa PH, topografidanlain-lain.Endapan besi dan alumina banyak terkonsentrasi pada zona limonit.

Pada zona ini di dominasi oleh Goethit (Fe2O3H2O), Hematite (Fe2O3) yangrelativetinggi,Gibbsite(Al2O3.3H2O),Clinoclor(5MgO.Al2O3.3SiO2.4H2O) dan mineral-mineral hydrous silicates lainnya(mineral lempung)Bijih besi dapat terbentuk secara primer maupun sekunder. Proses pembentukan bijih besi primer berhubungan dengan proses magmatisme berupa gravity settling dari besi dalam batuan dunit, kemudian diikuti dengan proses metamorfisme/metasomatsma yang diakhiri oleh proses hidrotermal akibat terobosan batuan beku dioritik. Jenis cebakan bijih besi primer didominasi magnetit – hematite dan sebagian berasosiasi dengan kromit – garnet, yang terdapat pada batuan dunit terubah dan genes-sekis.

Besi yang terbentuk secara sekunder di sebut besi laterit berasosiasi dengan batuan peridotit yang telah mengalami pelapukan. Proses pelapukan berjalan secara intensif karena pengaruh faktor-faktor kemiringan lereng yang relative kecil, air tanah dan cuaca, sehingga menghasilkan tanah laterit yang kadang-kadang masih mengandung bongkahan bijih besi hematite/goetit berukuran kerikil – kerakal.Besi Laterit merupakan jenis cebakan endapan residu yang dihasilkan oleh proses pelapukan yang terjadi pada batuan peridotit/piroksenit dengan melibatkan dekomposisi, pengendapan kembali dan pengumpulan secara kimiawi . Bijih besi tipe laterit umumnya terdapat didaerah puncak perbukitan yang relative landai atau mempunyai kemiringan lereng dibawah 10%, sehingga menjadi salah satu factor utama dimana proses pelapukan secara kimiawi akan berperan lebih besar daripada proses mekanik. Sementara struktur dan karakteristik tanah relative dipengaruhi oleh daya larut mineral dan kondisi aliran air tanah. Adapun profil lengkap tanah laterit tersebut dari bagian atas ke bawah adalah sebagai berikut : zone limonit, zone pelindian (leaching zone) dan zone saprolit yang terletak di atasbatuanasalnya(ultrabasa).

Zona pelindian yang terdapat diantara zona limonit dan zona saprolit ini hanya terbentuk apabila aliran air tanah berjalan lambat pada saat mencapai kondisi saturasi yang sesuai untuk membentuk endapan bijih. Pengendapan dapat terjadi di suatu daerah beriklim tropis dengan musim kering yang lama. Ketebalan zona ini sangat beragam karena dikendalikan oleh fluktuasi air tanah akibat peralihan musim kemarau dan musim penghujan, rekahan-rekahan dalam zona saprolit dan permeabilitas dalam zonalimonit
Derajat serpentinisasi batuan asal peridotit tampaknya mempengaruhi pembentukan zona saprolit, ditunjukkan oleh pembentukan zona saprolit dengan inti batuan sisa yang keras sebagai bentukan dari peridotit/piroksenit yang sedikit terserpentinisasikan, sementara batuan dengan gejala serpentinit yang kuat dapat menghasilkan zona saprolit .
Fluktuasi air tanah yang kaya CO2 akan mengakibatkan kontak dengan saprolit batuan asal dan melarutkan mineral mineral yang tidak stabil seperti serpentin dan piroksin. Unsur Mg, Si, dan Ni dari batuan akan larut dan terbawa aliran air tanah dan akan membentuk mineral-mineral baru
pada saat terjadi proses pengendapan kembali. Unsur-unsur yang tertinggal seperti Fe, Al, Mn, CO, dan Ni dalam zona limonit akan terikat sebagai mineral-mineral oksida/hidroksida diantaranya limonit, hematit, goetit, manganit dan lain-lain. Akibat pengurangan yang sangat besar dari Ni-unsur Mg dan Si tersebut, maka terjadi penyusutan zona saprolit yang masih banyak mengandung bongkah-bongkah batuan asal. Sehingga kadar hematit unsur residu di zona laterit bawah akan naik sampai 10 kali untuk membentuk pengayaan Fe2O3 hingga mencapai lebih dari 72% dengan spinel-krom relative naik hingga sekitar 5% . Besilaterit

Mineral ini terbentuk dari pelapukan mineral utama berupa olivine dan piroksin. Mineral ini merupakan golongan mineral oksida hidroksida non silikat, mineral ini terbentuk dari unsur besi dan oksida atau FeO( ferrous oxides) kemudian mengalami proses oksidasi menjadi Fe2O3 lalu mengalami presipitasi atau proses hidroksil menjadi Fe2O3H2O ( geotitheMineral ini tingkat mobilitas unsurnya pada kondisi asam sangat rendah, oleh karena itu pada profil laterit banyak terkonsentrasi pada zona limonit.
Alumina
Unsur Al hadir dalam mineral piroksin, spinel (MgO.Al2O3), pada mineral sekunder seperti Clinochlor (5MgO.Al2O3.3SiO2.4H2O), dan gibbsite (Al2O3.3H2O). Alumina sangat tidak larut pada air tanah yang ber Ph antara 4-9.

B. CARA PENAMBANGAN
Penambangan biji nikel laterit dilakukan dengan penam bangan terbuka . lapisan tana penup di kupas dengan bulldozer ,biji digali dengan power shovel . biji nikel sulfida ditambankag dengan tambang terbuka atau dengan tambang dalam tergantung dari keadaan endapanya .

C. KEGUNAAN
Nikel digunakan untuk membuat campuran logam (non Ferros Alloy),missal alloy nikel-besi dengan kandungan nikel antara 50-80% sisanya besi. Alloy alni yaitu campuran alminium nikel dan besi,yang dalam penggunaanya sama dengan penggunaan baja karbon,alloy Ferrid yang mengadung nikel oksida dan seng . Alloy tersebut biasanya dimanfaatkan untuk peralatan elektronika. Disamping itu nikel digunakan untuk pelapis logam dengan cara elekro pllating,baja tahan karat ,bahan campuran keramik .

Posted in Uncategorized | 2 Comments

Kapan MIGAS Habis ?

Apakah migas merupakan resources yang limited ? Jika migas merupakan limited resources, kapankah migas di Indonesia habis ? Apakah dalam orde puluhan tahun lagi ataukah ratusan tahun ?

Pertanyaan yang dilontarkan di atas adalah pertanyaan fundamental. Jika kita tidak bisa menentukan jumlah kekayaan migas kita yang ada saat ini, bagaimana kita mau menentukan strategi ke depan ? (baik dari sisi bisnis migas itu sendiri maupun dari sisi masyarakat sebagai pengguna produk).

Ya, migas merupakan limited resources. Artinya migas adalah barang yang tidak dapat diperbaharui lagi, begitu dipakai habis. Terjadinya migas di alam memakan waktu yang sangat lama dan membutuhkan kondisi tertentu sehingga tidak setiap tempat di bumi dapat mengandung migas. Berbahagialah kita karena negeri kita Indonesia tercinta ini dikaruniai Tuhan selain alam yang subur juga kandungan buminya penuh dengan hasil tambang termasuk migas. Bagaimana dengan cadangan migas di Indonesia?

Contoh, kandungan minyak yang ada dalam bumi Indonesia adalah sejumlah x liter air dalam bak yang bervolume kira-kira 100 liter. Jika kita buka kran air dengan kecepatan 0.1 liter/minute, karena kita beranggapan bahwa KIRA-KIRA masih ada 70 liter air lagi, padahal air di dalam tinggal 10 liter lagi maka dalam waktu kira-kira 100 menit air dalam bak sudah habis. Dan kitapun saling salah-salahan karena tidak adanya air yang muncul dari kran.

Konsekensi dari KETIDAKTAHUAN kita, akan berbuntut banyak. Contoh lagi, misalnya kita selalu berusaha mencari teknologi yang paling top dalam eksplorasi dan produksi migas, ini memacu kecepatan cadangan minyak kita semakin tipis, dan pada akhirnya teknologi itu tidak berguna lagi untuk (bukan karena teknologinya jelek, tapi karena resource sudah habis). Ketidaktahuan kita akan membawa kita pada kebodohan dalam bertindak yang dapat berkonsekuensi pada penderitaan anak cucu kita.

Cadangan migas yang ada selalu berubah dengan selalu adanya pencarian-pencarian cadangan baru. Dan dengan teknologi yang terus berkembang banyak lapangan-lapangan migas yang sebelumnya sudah dinyatakan habis karena diproduksi dengan metode primer, diproduksi kembali dengan metode sekunder, kemudian tertier (disebut sebagai Enhance Oil Recovery). Sedemikian rupa manusia berusaha untuk memperoleh migas dari alam karena migas adalah barang yang sangat dibutuhkan manusia dalam damai dan perang.

Kiranya sulit sekali kita sebagai manusia di dunia dapat memprediksi berapa cadangan yang ada di dalam perut bumi ini. Kenapa ? Karena pencariannya di alam tidak mudah, membutuhkan teknologi tinggi dan biayanya mahal. Oleh sebab itu, kalau ditanyakan kapan minyak habis, tidak ada seorangpun yang dapat menjawabnya. Bila pertanyaan itu diajukan kepada seorang geologist, maka jawabannya adalah : “tidak tahu kapan habisnya” atau bahkan yang lebih spektakuler “tidak akan pernah habis”. Berbeda bila pertanyaan itu diajukan kepada kalangan ekonom, mereka akan menghitung berdasarkan : Cadangan yang ada (saat ini) dikurangi produksi perhari sehingga diketahui kapan cadangan itu habis. Kita hanya dapat berharap semoga Indonesia masih memiliki banyak cadangan yang masih dapat diketemukan lagi, mungkin dengan teknologi-teknologi baru pada masa yang akan datang sehingga tidak akan habis untuk masa yang singkat.

Yang harus kita pikirkan untuk mengatur strategi ekonomi adalah bukan berapa cadangan yang kita punya di negeri tercinta ini, tetapi berapa cadangan terbukti yang kita punyai pada saat ini. Dan hal ini harus terus direvisi setiap tahun. Berdasarkan cadangan terbukti ini kita dapat mengetahui/menghitung dan mengatur berapa produksi migas yang akan dihasilkan dan berapa penerimaan kita, bagaimana pemasarannya.

Karena kita harus ingat gas yang diproduksikan tidak dapat disimpan seperti minyak pada tanki-tanki penimbun. Begitu gas tersebut diproduksikan, ia harus segera dijual dan ada pembelinya. Di sinilah dibutuhkan kepiawaian ahli-ahli pemasaran kita untuk mendapatkan kontrak-kontrak jangka panjang untuk penjualan gas tersebut. (Berbeda dengan minyak yang dapat dijual perkapal).

Cadangan terbukti ini (setiap tahun) selalu diketahui oleh pemerintah karena cadangan ini dilaporkan setiap tahun oleh PSC/Pertamina/Migas dalam wujud laporan tahunan PSC yang menghitung berapa cadangan terbukti pada satu cut-off date tertentu. Cadangan yang dilaporkan ini adalah cadangan yang telah terbukti, yang kita yakini dapat diproduksi dengan semua teknologi yang dilakukan saat cadangan tersebut dihitung (proved recoverable reserves), termasuk dari IOR (Improved Oil Recovery, Secondary dan Tertiary).

Data ini diberikan oleh masing-masing PSC ke induk perusahaan mereka, setelah divalidasi dan disetujui, baru ke Pertamina/Migas. Data ini diperlukan untuk berbagai perhitungan ekonomis : untuk mengevaluasi berapa nilai perusahaan untuk urusan saham (nyse, nasdaq etc..), berapa investasi yang akan ditanamkan untuk tahun-tahun mendatang, berapa exposure perusahaan di Indonesia (melihat situasi saat ini dengan segala macam sweeping etc..), berapa jumlah cadangan tersisa negara kita (untuk Pertamina/Migas) yang kemudian dipakai untuk RAPBN, pembagian porsi daerah dalam era otonomi, dll. dst.

Di US dan beberapa negara Europe salah satu indicator yang dipakai ialah R/P (Reserves/Production). R/P selalu dijaga pada nilai 10 (saat ini menurut perhitungan R/P global berada pada kisaran 50). Dengan kata lain jika reserves drop mencapai 10 kali dari production maka production akan menurun bersamaan dengan menurunnya reserves (Bayangkan bagaimana bisa menentukan production jika tidak tahu reserves!).

Production sendiri increase rata-rata 0-3% per tahun. Dalam almanak ditahun 2000, reserves oil ada kira-kira 992 BB. Studi lain yang sering disebutkan ialah studi dari Laherrre (1998) menunjukkan kira-kira 900 BB. Sementara US Geological Survey (2000) menunjukkan beberapa angka optimis (dibagi atas tiga kategori probabilitas (95%, 50%, dan 5%) menunjukan angka berturut-turut 2248, 3003, 3896 BB. Kalau dikonversikan ke beberapa data yang production dan consumption yang lain maka didapat berturut-turut 1348, 2103, 2996 BB. Kesimpulannya :

Good case (USGS 5%);
2996 BB dengan inital increase in production 1% maka peak production ialah pada tahun 2062.

Bad case (Laherrere);
900 BB dengan initial increase in production 3% maka peak production ialah pada tahun 2014.

Likely case (USGS 95%);
1348 BB, increase in production 2%, peak production akan dicapai pada tahun 2025.

Back to the issue, the real question is not “when we run out of oil ?”, but when will the production peak make petroleum so expensive as to be economically nonvialle as the energy foundation of civilization (especially transportation).

Jadi, kapan migas habis? Silahkan coba kalkulasi sendiri. Jawab pastinya, “No one really knows, but sometimes in your lifetime”.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Geomorfologi n Stratigrafi Gn. Kerinci

Geomorfologi

Satuan morfologi daerah G. Kerinci dapat dibagi menjadi :

1. Satuan Morfologi Perbukitan “hummocky”

Satuan morfologi ini menempati bagian daerah kaki gunungapi bagian selatan, berupa perbukitan yang bergelombang. Daerah ini tertutupi seluruhnya oleh batuan piroklastika jatuhan dan merupakan dasar graben volcano tektonik yang tertimbun hasil kegiatan letusan G. Kerinci (L. Djoharman1972). Sungai yang mengalir di daerah ini adalah S. Sangir, S. Air Putih, merupakan batas sebelah timur ; S. Aro, S. Padi, S. Panjang, S. Timbulun, Belandir di bagian utara dan di bagian selatan terdiri dari S. Kering, S. Kersik Tuo S. Deras Kanan dan S. Siulak Deras Kiri dan di bagian barat dibatasi oleh S. Lembar – Siulak Deras Kiri.

2. Satuan morfologi perbukitan tua

Satuan morfologi ini menempati bagian sebelah timur dan barat G. Kerinci. Bentuk lereng dari satuan ini sangat terjal (hampir tegak) membentuk suatu dinding yang sangat curam. Satuan morfologi ini merupakan bagian naik dari system sesar sumatera (horst) yang memanjang daru utara ke selatan. Puncak yang terdapat dalam satuan perbkitan tua bagian timur terdiri dari Bukit Ulu Batang Tandai (943 m) ; G. Selasi (2391 m); G. Mandurai Besar (2481 m), titik ketinggian tanpa nama dalam peta topografi (1956 m) ; (1574 m) dan G. Songka (1914 m). Puncak-punak yang terdapat dalam satuan morfologi perbukitan tua bagian barat terdiri dari Bukit Putus (893 m); Bukit Liki (1045,8 m); G. Hulu Sungai Kapur; G. Terembun (2577) m) dan G. Lintang (2218 m). Batuan penyusun satuan morfologi ini terdiri dari aliran lava dan piroklastika.

3. Satuan morfologi tubuh gunungapi

Menurut Van Bemmelen (1949) Gunungapi ini muncul didalam suatu struktur graben yang merupakan bagian dari sesar Sumatera, Djoharman (1972) menyatakan bahwa tubuh gunungapi ini muncul didasar suatu graben vulkano tektonik tegak lurus pada garis tektonik Bukit Barisan yang mengalami penurunan waktu patahan besar itu terjadi . Bagian puncak terdiri dari G. Merapi (3655 m), G. Elok (3649 m), bentuk ini mirip dengan bekas kawah lama ataupun sisa pematang lava. Puncak lereng sebelah baratdaya (3805 m) yang biasa disebet sebagai “Pesanggrahan Pondok Bunga” merupakan pinggiran kawah tertinggi dari kawah giat sekarang. Yang terendah dan paling luas dari kawah terletak sebelah tenggara dengan ketinggian 3620 meter, makin ke utara terdapat tonjolan-tonjolan kecil dengan ketinggian 3624 meter. Lereng sebelah barat laut jauh lebih sempit dengan ketinggian 3669 meter. Tonjolan-tonjolan lainnya yang tanpa nama adalah puncak 3570 meter dan 3573 meter yang merupakan pematang G. Elok.

Stratigrafi

Stratigrafi batuan yang terdapat di sekitar G. Kerinci tersusun dari tua ke muda sebagai berikut :

1.

Batuan yang berumur Paleozoikum – Mesozoikum terdapat di bagian utara komplek G. Kerinci, dengan dicirikan oleh bentuk morfologi yang kasar dan lembah-lembah yang dalam akibat erosi yang sangat berlanjut, tersusun oleh batuan sedimen dan metamorfosa dan intrusi batuan Granit.
2.

Batuan berumur tersier, tersebar memanjang di sebelah barat dan timur dan selatan dengan arah umum barat daya timurlaut. Batuan ini tersusun dari batuan sedimen (batu pasir, lanau, tufa, batu gamping), yang tersebar di bagian selatan G. Kerinci. Batuan vulkanik tua yang tidak diketahui sumber asalnya tersebar di bagian barat dan timur G. Kerinci. Batuan Vulkanik tua ini terdiri dari Batuan Vulkanik Danau Tujuh dan Batuan Vulkanik Patah Sembilan.
3.

Batuan Vulkanik G. Kerinci yang tersusun dari batuan Lava, piroklastik jatuhan, piroklastik aliran dan lahar. Satuan batuan ini terdiri dari beberapa kelompok batuan yang diuraiakan berdasarkan urutan stratigrafinya terbagi menjadi beberapa kelompok (dapat di lihat dalam peta Geologi G. Kerinci, disusun oleh M.S. Santoso dkk).

Posted in umum | Leave a comment

Masih mungkinkah ada letusan gunungapi sedahsyat Krakatau atau Tambora ?

Khusus Krakatau, kita cek saja geologi dan sejarah letusan atau penelitian yang pernah dilakukan di sini, sejak zaman Verbeek (1885), dua tahun setelah letusan katastrofiknya (1883) sampai penelitian2 para ahli gunungapi Indonesia seperti Pak Tikno Bronto, Pak Yatno, Pak Gendoet, Pak Igan, dan yang lainnya. Kita juga harus melihat situasi tektonik tempat gunungapi itu muncul.

Berdasarkan rekonstruksi terbaru (misalnya dari Robert Hall, 1995-2003), Selat Sunda tempat Krakatau muncul, belum ada sebelum 10 juta tahun yang lalu. Selat ini berkembang dalam 10 juta tahun terakhir. Sebelumnya, Jawa masih terikat dengan Sumatra dalam arah yang mirip Sumatra yaitu BL-Tenggara. Kalau Jawa sekarang arahnya B-T, itu karena lepas dari Sumatra dalam 10 juta tahun terakhir kemudian terputar melawan arah jarum jam. Perpisahan Jawa-Sumatra ini membuka Selat Sunda, sehingga tidak mengherankan mengapa Selat Sunda menyempit di timurlaut dan melebar ke arah baratdaya, ini adalah efek rotasi anti-clockwise dengan titik rotasi (pivot point) di sebelah timurlaut. Yang menyebabkan Jawa terpisah dari Sumatra adalah majunya Australia ke arah utara di ujung Busur Banda. Apakah rekonstrksi ini benar ? Mungkin benar, seperti dibuktikan oleh pengukuran radiometric dan paleomagnetik beberapa batuan Paleogen-Neogen di Jawa yang dilakukan oleh Ngkoimani et al. (2006) yang menyimpulkan bahwa separuh Jawa bagian timur dulunya berlokasi lebih selatan daripada posisinya sekarang.
Sebuah rotasi Jawa yang anticlockwise dan Sumatra yang juga terputar clockwise (Barber et al., 2005) akan mengharuskan sistem retakan di Selatan Sunda sebagai retakan berorientasi BD-TL. Dan, sistem retakan ini telah dijadikan jalur lemah munculnya rentetan gunungapi di Selat Sunda dari Sebesi di selatan, Sebuku di tengah sampai Raja Bassa di utara. Gunung Peucang dan intrusi linear dykes di sepanjang pantai timur Pulau Panaitan harus dipandang sebagai bagian jalur ini. Dan, adalah Verbeek (1885) yang pertama kali menyebutkan bahwa Krakatau sebenarnya terletak di titik perpotongan dua jalur : jalur Sumatra yang BL-Tenggara dan jalur Selat Sunda yang BD-TL. Verbeek juga menulis dalam laporannya bahwa aktivitas panjang Krakatau disebabkan lokasinya yang merupakan focus injeksi magma, yang juga mempengaruhi bentuk dapur magmanya. Karena posisi tektonik Krakatau tidak berubah dalam 10 juta tahun terakhir ini, maka aktivitas erupsi yang sama yang pernah terjadi pada 1883 dan sebelumnya tak mungkin tak terjadi lagi. Hanya tingkat letusannya yang harus kita cermati.

Bila ditelusuri riwayatnya, seperti banyak gunungapi lainnya, Krakatau punya sejarah panjang periode dormant (istirahat) dan erupsinya. Suatu siklus besar dalam kehidupan gunungapi bermula dengan tumbuhnya kerucut permukaan dan berakhir dengan keruntuhan sebagian puncak ini membentuk kaldera. Krakatau telah mengalamai dua siklus besar jenis ini.
Siklus pertama Krakatau dimulai pada masa pra-sejarah, dan mungkin berakhir pada abad ke-5 Masehi. Selama siklus ini, sebuah kerucut andesitic terbangun sampai ketinggian sekitar 2000 meter -ini tentu disimpulkan dari rekonstruksi berdasarkan shattered remains-nya -sisa-sisa hancurannya. Ketinggian ini lebih dari dua kali ketinggian Anak Krakatau sekarang. Diameter kerucut ini sekitar 15 km di dasarnya, sekitar setengah ukuran Gunungapi Merapi di utara Yogyakarta. Kaldera selebar 10 km mengakhiri daur ini dan menyisakan bekas2nya berupa empat pulau : Verlaten (Sertung), Krakatau (Rakata), Lang (Rakata Kecil) dan Police Hat.

Uniknya adalah bahwa seorang peneliti bernama Judd (1888) menghubungkan berakhirnya siklus pertama Krakatau ini dengan “Pustaka Raja” sebuah buku berbahasa Jawa kuno yang menceritakan sebuah letusan dahsyat di sebelah barat Jawa. Terjemahan uraian dalam Pustaka Raja adalah “Dalam tahun 338 Syaka (416 M) sebuah bunyi Guntur terdengar dari pegunungan Batuwara (sekarang disebut Pulosari di utara Banten), yang kemudian dijawab oleh bunyi Guntur yang yang sama berasal dari gunung Kapi (Krakatau ?), yang terletak di sebelah barat Banten. Api besar yang menyala mencapai langit keluar dari Kapi, disertai oleh hujan badai. Suaranya begitu menakutkan, dan akhirnya gunung Kapi dengan raungan dahsyat hancur berkeping-keping.” (ditulis ulang dari Simkin dan Fiske, 1983).

Siklus kedua Krakatau dimulai ketika sebuah kerucut basalt yang kaya olivine muncul di tepi tenggara kaldera siklus pertama. Tinggi Krakatau saat itu 800 meter. Kemudian letusan-letusan berikutnya telah bergeser mengikuti jalur utara-baratlaut membentuk kerucut-kerucut Danan dan Perboewatan yang terbuat dari material andesitic kaya hipersten. Laporan-laporan dari pelayaran di Selat Sunda menyebutkan bahwa Perboewatan muncul pada 1680 dengan ketinggian yang lebih rendah dari Krakatau. Seperti juga terjadi di kaldera Tengger saat ini, maka gunung-gunung di dalam kaldera akan semakin kecil semakin muda, dan yang paling kecil berlokasi di titik geseran paling ujung.
Siklus kedua ini berakhir pada hari Senin 27 Agustus 1883 pukul 10.00 (Simon Winchester, 2000)dalam sebuah letusan paroxysmal yang terkenal itu, yang juga melenyapkan Perboewatan, Danan, dan setengah badan sebelah utara Krakatau. Saat itu langsung terbentuk kaldera sedalam 300 meter yang berisi air laut. Pengukuran hidrografik setelah masa letusan berakhir menunjukkan bahwa kaldera siklus kedua ini hampir sama dimensinya dengan kaldera siklus pertama, tetapi ia memanjang agak ke selatan baratdaya, menunjukkan runtuhan dapur magma mengikuti struktur regionalnya.

Siklus ketiga bermula ketika Anak Krakatau (Krakatau yang kita kenal sekarang) muncul pada suatu pagi pada tahun 1927 (van Bemmelen, 1949). Sang Anak tumbuh dengan cepat, jauh melebihi kecepatan pertumbuhan makhluk hidup mana pun, yaitu sekitar 5 meter per tahun (Willumsen, 1997). Anak Krakatau saat ini dibangun oleh material basaltic. Kapan siklus ketiga ini akan berakhir, mengikuti sejarah ayah dan kakeknya, maka ia akan meletus hebat ketika material magmanya sudah menjadi asam. Mungkin letusannya tak akan sehebat tahun 416 atau 1883, tetapi dengan makin padatnya penduduk sekitar pantai Banten dan Lampung; maka jumlah korban potensial bisa lebih besar daripada letusan 416 dan 1883.

Posted in Uncategorized | 1 Comment

sekilas cerita ttg lembah baliem di papua

Sebutan “Dani” untuk kelompok masyarakat yang menghuni Lembah Baliem sebenarnya diberikan oleh orang Amerika dan Belanda untuk orang Moni yang bermukim di dataran tinggi Paniai (Moni: orang asing). Kata moni ini selanjutnya berubah menjadi ndani untuk mereka yang tinggal di Baliem. Penduduk lembah Baliem sendiri menyebut diri mereka “nut akuni pallimeke” (kami dari Baliem).Hutan-hutan lebat di Pegunungan Jayawijaya adalah “rumah” Suku Dani. Mereka hidup dari berburu / meramu hasil hutan dan sungai sekitar kampung mereka. Hutan rimba dan alam Baliem yang heterogen membentuk laki-laki Dani menjadi “prajurit-prajurit” tangguh. Mereka adalah ahli-ahli “kehutanan” yang gagah berani dalam mempertahankan “rumah”nya dari gangguan pihak asing. Pelanggaran zona dan aturan-aturan adat oleh pihak asing akan dihadapi prajurit-prajurit Dani, hingga memungkinkan terjadinya peperangan (wim abiyokoi). Namun demikian mereka juga mengenal perdamaian (kong gualim) sebagai penyelesaian perselisihan.

Di samping memanfaatkan hasil hutan, kesuburan tanah lembah Baliem berpotensi untuk diolah lanjut. Untuk itulah Suku Dani membuka hutan menjadi ladang-ladang pertanian. Pembukaan hutan menjadi ladang dan penjagaan keamanannya adalah tugas laki-laki Dani. Sedangkan penanaman dan pemeliharaan tanaman, yang lebih memerlukan kepekaan perasaan terhadap alam menjadi tugas kaum wanita. Pembagian tugas ini terejawantah pula dalam permukiman mereka. Tugas membuka hutan menjadi permukiman, membangun rumah, dan menjaga ketenteramannya adalah tugas kaum laki-laki. Memelihara hunian seisinya, termasuk “menumbuh-kembangkankan” generasi penerus adalah tugas kaum wanita. Inikah konsep kesepasangan dalam “menaklukkan” alam liar Baliem?
Suku Dani tinggal dalam kelompok-kelompok yang masih memiliki hubungan kekerabatan dalam sebuah usilimo/sili. Beberapa sili yang berdekatan biasanya memiliki kedekatan hubungan kekerabatan. Kelompok sili yang terbentuk karena hubungan darah atau yang terbentuk atas dasar persatuan teritorial dan politik membentuk kampung.
Kampung dipimpin oleh seorang Kepala Suku didampingi seorang Panglima Perang. Pentingnya kedudukan Panglima Perang dalam struktur kehidupan masyarakat Dani menunjukkan tingginya tingkat kewaspadaan masyarakat terhadap berbagai gangguan atas ketenteraman yang mereka bina dalam lingkungannya. Ini karena mereka tinggal di daerah hutan dengan tingkat kerawanan yang tinggi. Gangguan itu bisa datang dari binatang buas, bencana alam, atau kelompok manusia lain. Perang (wim abiyokoi) merupakan salah satu wujud tingginya tingkat kewaspadaan masyarakat hutan Baliem terhadap pelanggaran norma-norma adat suatu suku oleh kelompok lain. Penghargaan yang tinggi terhadap panglima perang yang sudah meninggal dan dipandang berjasa besar diwujudkan dengan mengawetkan jasad mereka dalam bentuk mumi.
Batas teritorial permukiman Suku Dani terbagi atas tiga wilayah. Daerah terluar adalah hutan di bawah “kewenangan pengelolaan” suatu suku. Dalam masyarakat Dani, kaum laki-lakilah yang banyak berhubungan dengan keliaran rimba Baliem. Norma-norma adat yang mengatur pengelolaan hutan di wilayah ini misalnya aturan mengenai binatang yang boleh diburu, kayu yang boleh ditebang untuk membuat rumah, larangan membuang sampah dan kotoran apapun di sungai, dan bagian hutan yang boleh dibuka untuk permukiman dan perladangan baru, biasanya dituangkan dalam bentuk mitos-mitos yang dikaitkan dengan hal-hal mistik. Pelanggaran atas zona pengelolaan oleh pihak asing akan dihadapi laki-laki Dani sehingga mengakibatkan perang suku.

Batas pengelolaan kedua adalah ladang. Pembukaan hutan menjadi ladang (perubahan hutan liar menjadi lingkungan yang diolah potensinya) adalah tugas kaum pria. Apabila ladang sudah siap ditanami, maka kaum wanita Danilah yang menanam bibit tanaman, seperti hipere (ubi) dan talas. Selanjutnya wanita Dani pula yang memelihara tanaman ladang hingga dapat dipetik hasilnya.

Saat ini sayur mayur banyak ditanam di ladang. Hasilnya sebagian dijual para wanita ke pasar. Pada awalnya kegiatan ini tidak berorientasi pada keuntungan ekonomis, melainkan untuk kepentingan sosialisasi saja. Biasanya hasil ladang ditukar dengan babi. Suku Dani adalah masyarakat subsisten yang menggantungkan kehidupannya pada kekayaan yang diberikan alam di sekitarnya. Kegiatan jual-beli hasil ladang merupakan kegiatan baru masyarakat Dani.
Usilimo/sili merupakan zona inti permukiman Dani, yang dihuni oleh sebuah keluarga. Usilimo terbentuk dari hutan yang sudah dibuka, diolah dan ditata menurut jalinan potensi alam dan sosial budaya lokal Tidak sembarang orang dapat memasuki zona ini. Ini terlihat dari pagar kayu rapat berketinggian 8-12 meter yang mengelilingi usilimo (disebut leget). Satu-satunya pintu masuk adalah mokarai. Mokarai berhadapan langsung dengan honei (rumah) kepala keluarga.

Aktifitas-aktifitas berhuni banyak dilakukan di dalam sili. Seperti halnya dalam kegiatan perladangan, pembukaan hutan menjadi sili, membangun rumah (honei) dan fasilitas lainnya, serta penjagaannya dilakukan oleh kaum pria. Kegiatan domestik dan hubungan-hubungan intern keluarga menyangkut kegiatan penumbuh-kembangan generasi, banyak dilakukan oleh kaum ibu yang notabene lebih memiliki kepekaan perasaan dibandingkan kaum pria. Tampaknya leget sebagai penanda fisik yang sangat tegas dan kuat pada usilimo juga merupakan salah satu bentuk kewaspadaan Suku Dani terhadap gangguan pihak asing atas ketenteraman seluruh anggota keluarga. Meskipun sehari-hari para wanita bekerja di ladang di luar batas usilimo, tetapi mereka masih dalam lingkup penjagaan prajurit-prajurit Dani.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Foto ngumpul2 anak2 Perhimagi Regional Jabagtim

Picture

seru banget tuh .. thank’s brada n sista ….

Posted in Uncategorized | 1 Comment