sekilas cerita ttg lembah baliem di papua

Sebutan “Dani” untuk kelompok masyarakat yang menghuni Lembah Baliem sebenarnya diberikan oleh orang Amerika dan Belanda untuk orang Moni yang bermukim di dataran tinggi Paniai (Moni: orang asing). Kata moni ini selanjutnya berubah menjadi ndani untuk mereka yang tinggal di Baliem. Penduduk lembah Baliem sendiri menyebut diri mereka “nut akuni pallimeke” (kami dari Baliem).Hutan-hutan lebat di Pegunungan Jayawijaya adalah “rumah” Suku Dani. Mereka hidup dari berburu / meramu hasil hutan dan sungai sekitar kampung mereka. Hutan rimba dan alam Baliem yang heterogen membentuk laki-laki Dani menjadi “prajurit-prajurit” tangguh. Mereka adalah ahli-ahli “kehutanan” yang gagah berani dalam mempertahankan “rumah”nya dari gangguan pihak asing. Pelanggaran zona dan aturan-aturan adat oleh pihak asing akan dihadapi prajurit-prajurit Dani, hingga memungkinkan terjadinya peperangan (wim abiyokoi). Namun demikian mereka juga mengenal perdamaian (kong gualim) sebagai penyelesaian perselisihan.

Di samping memanfaatkan hasil hutan, kesuburan tanah lembah Baliem berpotensi untuk diolah lanjut. Untuk itulah Suku Dani membuka hutan menjadi ladang-ladang pertanian. Pembukaan hutan menjadi ladang dan penjagaan keamanannya adalah tugas laki-laki Dani. Sedangkan penanaman dan pemeliharaan tanaman, yang lebih memerlukan kepekaan perasaan terhadap alam menjadi tugas kaum wanita. Pembagian tugas ini terejawantah pula dalam permukiman mereka. Tugas membuka hutan menjadi permukiman, membangun rumah, dan menjaga ketenteramannya adalah tugas kaum laki-laki. Memelihara hunian seisinya, termasuk “menumbuh-kembangkankan” generasi penerus adalah tugas kaum wanita. Inikah konsep kesepasangan dalam “menaklukkan” alam liar Baliem?
Suku Dani tinggal dalam kelompok-kelompok yang masih memiliki hubungan kekerabatan dalam sebuah usilimo/sili. Beberapa sili yang berdekatan biasanya memiliki kedekatan hubungan kekerabatan. Kelompok sili yang terbentuk karena hubungan darah atau yang terbentuk atas dasar persatuan teritorial dan politik membentuk kampung.
Kampung dipimpin oleh seorang Kepala Suku didampingi seorang Panglima Perang. Pentingnya kedudukan Panglima Perang dalam struktur kehidupan masyarakat Dani menunjukkan tingginya tingkat kewaspadaan masyarakat terhadap berbagai gangguan atas ketenteraman yang mereka bina dalam lingkungannya. Ini karena mereka tinggal di daerah hutan dengan tingkat kerawanan yang tinggi. Gangguan itu bisa datang dari binatang buas, bencana alam, atau kelompok manusia lain. Perang (wim abiyokoi) merupakan salah satu wujud tingginya tingkat kewaspadaan masyarakat hutan Baliem terhadap pelanggaran norma-norma adat suatu suku oleh kelompok lain. Penghargaan yang tinggi terhadap panglima perang yang sudah meninggal dan dipandang berjasa besar diwujudkan dengan mengawetkan jasad mereka dalam bentuk mumi.
Batas teritorial permukiman Suku Dani terbagi atas tiga wilayah. Daerah terluar adalah hutan di bawah “kewenangan pengelolaan” suatu suku. Dalam masyarakat Dani, kaum laki-lakilah yang banyak berhubungan dengan keliaran rimba Baliem. Norma-norma adat yang mengatur pengelolaan hutan di wilayah ini misalnya aturan mengenai binatang yang boleh diburu, kayu yang boleh ditebang untuk membuat rumah, larangan membuang sampah dan kotoran apapun di sungai, dan bagian hutan yang boleh dibuka untuk permukiman dan perladangan baru, biasanya dituangkan dalam bentuk mitos-mitos yang dikaitkan dengan hal-hal mistik. Pelanggaran atas zona pengelolaan oleh pihak asing akan dihadapi laki-laki Dani sehingga mengakibatkan perang suku.

Batas pengelolaan kedua adalah ladang. Pembukaan hutan menjadi ladang (perubahan hutan liar menjadi lingkungan yang diolah potensinya) adalah tugas kaum pria. Apabila ladang sudah siap ditanami, maka kaum wanita Danilah yang menanam bibit tanaman, seperti hipere (ubi) dan talas. Selanjutnya wanita Dani pula yang memelihara tanaman ladang hingga dapat dipetik hasilnya.

Saat ini sayur mayur banyak ditanam di ladang. Hasilnya sebagian dijual para wanita ke pasar. Pada awalnya kegiatan ini tidak berorientasi pada keuntungan ekonomis, melainkan untuk kepentingan sosialisasi saja. Biasanya hasil ladang ditukar dengan babi. Suku Dani adalah masyarakat subsisten yang menggantungkan kehidupannya pada kekayaan yang diberikan alam di sekitarnya. Kegiatan jual-beli hasil ladang merupakan kegiatan baru masyarakat Dani.
Usilimo/sili merupakan zona inti permukiman Dani, yang dihuni oleh sebuah keluarga. Usilimo terbentuk dari hutan yang sudah dibuka, diolah dan ditata menurut jalinan potensi alam dan sosial budaya lokal Tidak sembarang orang dapat memasuki zona ini. Ini terlihat dari pagar kayu rapat berketinggian 8-12 meter yang mengelilingi usilimo (disebut leget). Satu-satunya pintu masuk adalah mokarai. Mokarai berhadapan langsung dengan honei (rumah) kepala keluarga.

Aktifitas-aktifitas berhuni banyak dilakukan di dalam sili. Seperti halnya dalam kegiatan perladangan, pembukaan hutan menjadi sili, membangun rumah (honei) dan fasilitas lainnya, serta penjagaannya dilakukan oleh kaum pria. Kegiatan domestik dan hubungan-hubungan intern keluarga menyangkut kegiatan penumbuh-kembangan generasi, banyak dilakukan oleh kaum ibu yang notabene lebih memiliki kepekaan perasaan dibandingkan kaum pria. Tampaknya leget sebagai penanda fisik yang sangat tegas dan kuat pada usilimo juga merupakan salah satu bentuk kewaspadaan Suku Dani terhadap gangguan pihak asing atas ketenteraman seluruh anggota keluarga. Meskipun sehari-hari para wanita bekerja di ladang di luar batas usilimo, tetapi mereka masih dalam lingkup penjagaan prajurit-prajurit Dani.

About HMTG BUMI

Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi "BUMI", Sekolah Tinggi Teknologi Nasional Yogyakarta
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s